Batas Kewenangan Peradilan Adat Gampong dan Peradilan Jinayat dalam Kasus Ikhtilath di Banda Aceh

Main Article Content

Sri Mulia
Wahyu Ramadhani

Abstract

Penelitian ini menganalisis batas kewenangan peradilan adat gampong dan sistem peradilan jinayat di Aceh melalui studi kasus berbasis dokumen publik atas perkara ikhtilath di Banda Aceh tahun 2026 yang berkaitan dengan siaran langsung TikTok. Penelitian menggunakan metode hukum normatif atau doktrinal dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, yang dilengkapi analisis data register perkara dan publikasi resmi lembaga. Bahan hukum primer mencakup Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008, Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013, Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 sebagaimana diubah dengan Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2025, serta Keputusan Bersama Tahun 2011 tentang peradilan adat. Informasi kasus publik dipisahkan dari bahan hukum primer dan dinilai berdasarkan tingkat reliabilitas sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencantuman khalwat atau mesum dalam Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tidak memberikan kompetensi pidana kepada lembaga adat atas setiap perbuatan yang secara hukum memenuhi unsur ikhtilath. Berdasarkan informasi resmi yang tersedia bagi publik, penanganan formal perkara tahun 2026 secara prima facie selaras dengan kerangka hukum acara jinayat, tetapi ketiadaan salinan lengkap putusan membatasi penilaian atas kecukupan bukti dan pertimbangan hakim. TikTok terutama berfungsi sebagai konteks fakta dan pembuktian, bukan otomatis sebagai jarimah promosi yang terpisah. Penelitian menawarkan model rujukan berbasis unsur yang membatasi aparatur gampong pada penyaringan awal, dokumentasi, perlindungan hak, dan rujukan, bukan penilaian kesalahan pidana.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Mulia, S., & Ramadhani, W. (2026). Batas Kewenangan Peradilan Adat Gampong dan Peradilan Jinayat dalam Kasus Ikhtilath di Banda Aceh. Journal Evidence Of Law, 5(2), 967–982. https://doi.org/10.59066/jel.v5i2.2742
Section
Articles

References

Afandi, F., & Bagaskoro, L. R. (2024). Islam and state's legal pluralism: The intersection of Qanun Jinayat and criminal justice system in Indonesia. Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 19(1), 1–26. https://doi.org/10.21274/epis.2024.19.01.1-26

Agnesta, K. L., Nurjaya, I. N., Djatmika, P., & Aprilianda, N. (2021). The urgency of harmonization of offense types in the Qanun Jinayat as an effort to avoid dualism in application of law. Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences, 112(4), 15–21. https://doi.org/10.18551/rjoas.2021-04.02

Aksa, F. N., Saifullah, T., & Farabi, A. (2023). The implementation of Qānūn of Jināyāt in Aceh: A legal point of view. Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum, 8(1), 16–34. https://doi.org/10.22515/alahkam.v8i1.5896

Amalina, P., Din, M., & Abubakar, A. (2025). Law enforcement against companies accused of illicitly providing facilities for jarimah in Banda Aceh City's jurisdiction. International Journal of Sociology and Law, 2(3). https://doi.org/10.62951/ijsl.v2i3.711

Azwarfajri, A., Nur, M., Yusuf, M., & Hakim, L. (2025). Legal pluralism and responsive legal development: The role of pageu gampong in strengthening Sharia implementation in Aceh. Sinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya, 4(1), 190–201. https://doi.org/10.69548/sinthop.v4.i1.44.190-201

Bastiar, B., Bukhari, B., Anwar, A., Iswandi, I., & Masuwd, M. A. (2025). Shariah in action: Assessing the impact of Jinayat law on social order in Aceh. Justicia Islamica: Jurnal Kajian Hukum dan Sosial, 22(1). https://doi.org/10.21154/justicia.v22i1.9913

Delta, R. (2023). Pre-trial analysis of Wilayatul Hisbah authority in Qanun criminal jurisdiction: A study in Banda Aceh Syar'iyyah Court. Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam, 6(2), 238–252. https://doi.org/10.30659/jua.v6i2.28885

Djawas, M., Nurdin, A., Zainuddin, M., Idham, I., & Idami, Z. (2024). Harmonization of state, custom, and Islamic law in Aceh: Perspective of legal pluralism. Hasanuddin Law Review, 10(1), 64–82. https://doi.org/10.20956/halrev.v10i1.4824

Efendi, S. (2024). Transformation of Islamic criminal law in modern society in Aceh. Al-Qanun, 5(2). https://doi.org/10.58836/al-qanun.v5i2.21513

Fernando, D., Heniarti, D. D., & Zakaria, C. A. F. (2025). Transformasi alat bukti elektronik menggunakan digital forensik dalam pembaharuan hukum acara pidana. Journal Justiciabelen, 5(1), 60–74. https://doi.org/10.35194/jj.v5i01.5506

Gani, I. A. (2024). Compatibility of law enforcement and human rights within Islamic law in Aceh Province, Indonesia. Kanun: Jurnal Ilmu Hukum, 26(1), 176–195. https://doi.org/10.24815/kanun.v26i1.36815

Gunawan, E., & Ramdhani P., B. (2022). Tinjauan yuridis penggunaan digital evidence sebagai alat bukti dalam tindak pidana terorisme di Polrestabes Makassar. Alauddin Law Development Journal, 4(3), 572–582. https://doi.org/10.24252/aldev.v4i3.19138

Hasbi, Y., Saputra, F., Iskandar, H., Rasyid, L. M., & Harun. (2025). Criminalising women, silencing victims: Human rights and Sharia enforcement in Aceh. De Jure: Jurnal Hukum dan Syar'iah, 17(1), 175–203. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v17i1.29635

Herlius, F. (2022). Kaidah hukum adat dalam penuntutan demi keadilan berbasis kearifan lokal. Perspektif, 27(2), 94–103. https://doi.org/10.30742/perspektif.v27i2.831

Hidayatullah, M. Y., Rohmah, N., Al-Hallaj, K. S. A., & Riyadi, A. K. (2025). Non-Muslim khalwat in Qonun Jinayat in Aceh, Indonesia: Discourse on Islamic Sharia and human rights. Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 9(1). https://doi.org/10.21009/hayula.009.01.01

Irfani, N. (2020). Asas lex superior, lex specialis, dan lex posterior: Pemaknaan, problematika, dan penggunaannya dalam penalaran dan argumentasi hukum. Jurnal Legislasi Indonesia, 17(3), 305–325. https://doi.org/10.54629/jli.v17i3.711

Juliandika, A., & Fazzan, F. (2024). The implementation of Islamic Sharia in the enforcement of Qanun Jinayat in Aceh: A legal analysis and social impact. Ahlika: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 1(2), 148–161. https://doi.org/10.70742/ahlika.v1i2.94

Kejaksaan Negeri Banda Aceh. (2026). Kejaksaan Negeri Banda Aceh melaksanakan uqubat cambuk terpidana jarimah ikhtilat dan jarimah maisir di Taman Bustanussalatin, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Retrieved August 20, 2026, from https://kejari-bandaaceh.kejaksaan.go.id/berita/s/kejaksaan-negeri-banda-aceh-melaksanakan-uqubat-cambuk-terpidana-362d2

Keputusan Bersama Gubernur Aceh, Kepala Kepolisian Daerah Aceh, dan Ketua Majelis Adat Aceh Nomor 189/677/2011, Nomor 1054/MAA/XII/2011, dan Nomor B/121/I/2012 tentang Penyelenggaraan Peradilan Adat Gampong dan Mukim atau Nama Lain di Aceh.

Mahkamah Syar'iyah Banda Aceh. (2026). Sistem Informasi Penelusuran Perkara: Perkara Nomor 20/JN/2026/MS.Bna dan 21/JN/2026/MS.Bna. Retrieved August 20, 2026, from https://sipp.ms-bandaaceh.go.id

Monique, C., Yuliati, Y., & Sulistio, F. (2024). Exploring the role of digital forensics in identifying cyber crime in Indonesia's criminal procedure law. Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum, 23(2), 7145–7154. https://doi.org/10.31941/pj.v23i2.4068

Muksalmina, M., Syahputra, M. R., Yulis, S., & Subaidi, J. (2023). Khalwat dalam kajian hukum pidana Islam dan penyelesaiannya menurut Qanun Jinayat Aceh. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 2(4), 435–441. https://doi.org/10.55681/seikat.v2i4.806

Munajat, M. (2025). Dinamika penegakan hukum jinayat di Aceh: Harmonisasi antara kearifan lokal, syariat Islam, dan hak asasi manusia. IN RIGHT: Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia, 14(1), 85–109. https://doi.org/10.14421/inright.v14i1.4059

Muslim, B., Fauzi, H., & Musmulyadi, M. (2025). Pelaksanaan peradilan adat oleh Sarak Opat di Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(1), 511–531. https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i1.5134

Nasrullah, N., Novendra, C. S., & Reyhan, M. (2024). The challenges of Islamic criminal law implementation in Aceh Shariah Court. Diponegoro Law Review, 9(1), 121–135. https://doi.org/10.14710/dilrev.9.1.2024.121-135

Nisa, K., Azwir, A., & Muhazir, M. (2025). Mediator non-hakim di Aceh: Menelisik peran peradilan adat dalam penyelesaian kasus sengketa. Lentera, 6(2), 146–165. https://doi.org/10.32505/lentera.v6i2.9802

Nurdin, M. H., Dahlan, D., Suhaimi, S., & Mustakim, M. (2024). Using mediation method in customary justice of Aceh-Indonesia. International Asia of Law and Money Laundering, 3(2), 115–120. https://doi.org/10.59712/iaml.v3i2.96

Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat.

Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

Riza, K., Lubis, I. H., & Suwalla, N. (2022). Kepastian hukum terhadap putusan peradilan adat Aceh dalam penyelesaian tindak pidana pencurian. Jurnal Ilmiah Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2(1), 39–47. https://doi.org/10.35912/jihham.v2i1.1580

Safrijal, A., Faisal, F., Syahrin, A., & Rinaldi, Y. (2023). Settlement of Meugoe Blang disputes through customary law of Aceh. Journal of Law and Sustainable Development, 11(5), e525. https://doi.org/10.55908/sdgs.v11i5.525

Salma, S., Rama, A. S., Jarudin, J., Samsudin, M. A. bin, & Fadhilah, D. R. (2024). Between flogging and imprisonment: The disparity effect of the Sharia Court's decision on the supremacy of the Qanun Jinayat of Aceh. Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam, 9(2), 573–596. https://doi.org/10.29240/jhi.v9i2.8397

Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh. (2026). Kasus live TikTok mesum, Kasatpol PP-WH Banda Aceh: Kami pastikan prosesnya berjalan sesuai aturan. Retrieved August 20, 2026, from https://satpolpp-wh.bandaacehkota.go.id/2026/04/22/kasus-live-tik-tok-mesum-kasatpol-pp-wh-banda-aceh-kami-pastikan-prosesnya-berjalan-sesuai-aturan/

Setiawan, E. M. N., & Hartiwiningsih, H. (2025). Optimizing the use of digital forensics and information technology in proving criminal acts of electronic document forgery in Indonesia. International Journal of Law, Crime and Justice, 2(2). https://doi.org/10.62951/ijlcj.v2i2.587

Setyadi, A. (2026, July 3). Mesum saat live TikTok, sepasang kekasih di Aceh hukum cambuk. detikBali. Retrieved August 20, 2026, from https://www.detik.com/bali/hukum-dan-kriminal/d-8557707/mesum-saat-live-tiktok-sepasang-kekasih-di-aceh-hukum-cambuk

Sukirno, S., & Wibawa, K. C. S. (2024). Indigenous land dispute resolution in Indonesia: Exploring customary courts as an alternative to formal judicial processes. Revista Brasileira de Alternative Dispute Resolution, 6(12). https://doi.org/10.52028/rbadr.v6.i12.art09.en

Sukmasari, A., Frederik, W. A., Kalalo, M. E., & Soepeno, M. H. (2024). Application of electronic evidence as extension of legal civil evidence divorce cases in Indonesia. International Journal of Law, Environment, and Natural Resources, 4(1), 1–14. https://doi.org/10.51749/injurlens.v4i1.95

Suryana, A., & Sakmaf, M. S. (2025). Can electronic evidence constitute sufficient grounds for criminal liability? Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren, 7(1), 587–601. https://doi.org/10.46924/jihk.v7i1.323

Syahputra, M. R., Muksalmina, M., & Yulis, S. (2024). The the principles and implemetation of case settlement through Aceh customary courts process. Justitia Jurnal Hukum, 8(2). https://doi.org/10.30651/justitia.v8i2.23750

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Zainuddin, M., Nyak Umar, M., Sumardi, D., Mansari, M., & Khalil, Z. F. (2024). Protection of women and children in the perspective of legal pluralism: A study in Aceh and West Nusa Tenggara. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 8(3), 1948–1973. https://doi.org/10.22373/sjhk.v8i3.22203