https://erapublikasi.id/jurnal.erapublikasi.id/JSPK/issue/feedJurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif 2026-09-26T19:32:37+07:00Aji Satria Nugraha[email protected]Open Journal Systems<p data-start="1198" data-end="1667"><em data-start="1198" data-end="1246">Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif (JSPK)</em> adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian, tinjauan teoretis, maupun studi reflektif dalam bidang <strong data-start="1362" data-end="1386">sosiologi pendidikan</strong> dan <strong data-start="1391" data-end="1473">sosiologi umum yang relevan dengan dinamika sosial, kebudayaan, dan pendidikan</strong>. Nama <em data-start="1480" data-end="1495">“kolaboratif”</em> mencerminkan keterbukaan jurnal ini terhadap pendekatan interdisipliner <strong data-start="1568" data-end="1596">dalam kerangka sosiologi</strong>, serta kolaborasi lintas isu yang saling memperkaya perspektif sosial.</p> <p data-start="1669" data-end="2053">JSPK berupaya menjadi forum ilmiah yang membahas persoalan-persoalan strategis dalam masyarakat, seperti ketimpangan sosial, marginalisasi kelompok rentan, pendidikan karakter, serta perubahan sosial akibat perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI). Jurnal ini juga menekankan pentingnya pendekatan lokal dan nilai-nilai budaya dalam merespons tantangan global.</p> <p data-start="2055" data-end="2285">Diterbitkan oleh CV. Era Digital Nusantara, JSPK terbit dua kali setahun (Maret dan September), dan dipublikasikan secara <strong data-start="2177" data-end="2208">akses terbuka (open access)</strong> untuk mendorong diseminasi pengetahuan yang lebih luas, adil, dan berdampak.</p>https://erapublikasi.id/jurnal.erapublikasi.id/JSPK/article/view/2849Adaptive Strategies of Veteran Junior High School Teachers Facing AI Integration in English Teaching2026-08-17T10:53:46+07:00Iqbal Izzan Aziz[email protected]Nursamsu Nursamsu[email protected]Derga Surya Dinata[email protected]<p>The rapid diffusion of generative artificial intelligence (AI) has reshaped the demands teachers face in the classroom, yet how veteran teachers with substantial accumulated pedagogical experience respond to this disruption remains empirically underexplored. This qualitative case study explores how veteran junior high school teachers perceive, cope with, and pedagogically adapt to AI integration in their English classrooms. Data were drawn from semi-structured interviews with four junior high school English teachers in East Java, Indonesia, with approximately 15 to 28 years of teaching experience, analyzed using Braun and Clarke's six-phase thematic analysis. Findings reveal five interconnected patterns: teachers perceive AI simultaneously as opportunity and challenge, ranging from acute identity crisis to steady caution; coping is achieved through trial-and-error self-teaching and reciprocal exchange with younger colleagues; the most developed adaptive response repositions AI strictly as a preparatory tool while relocating assessment to AI-resistant oral performance; teachers manage AI-savvy students through structural redesign and direct supervision; and across all participants, professional identity is reconstructed around a relational, character-forming core viewed as beyond machine reach. The study argues that veteran teachers are active agents who mobilize accumulated pedagogical expertise to reshape, rather than simply absorb, the demands AI places on their practice.</p>2026-08-21T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif https://erapublikasi.id/jurnal.erapublikasi.id/JSPK/article/view/2875Pemanfaatan Alat Bantu dalam Bantuan Sosial Disabilitas: Hambatan dan Tantangan Penggunaan di Kecamatan Waru2026-09-07T20:19:30+07:00Clarita Isnanda[email protected]Husnul Muttaqin[email protected]<p>Penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan dalam memanfaatkan alat bantu yang diberikan melalui program bantuan sosial, baik dari aspek teknis, lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan penggunaan alat bantu belum sepenuhnya optimal dalam menunjang aktivitas dan kemandirian penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan alat bantu serta mengidentifikasi hambatan yang memengaruhi penggunaannya pada penyandang disabilitas di Kecamatan Waru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas penyandang disabilitas penerima bantuan alat bantu dan pendamping sosial dari Dinas Sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan alat bantu berbeda-beda berdasarkan tingkat disabilitas. Penyandang disabilitas ringan cenderung mampu menggunakan alat bantu secara lebih mandiri, sedangkan penyandang disabilitas sedang dan berat masih membutuhkan dukungan keluarga maupun pendamping. Hambatan yang ditemukan meliputi ketidaksesuaian alat bantu, lingkungan yang belum aksesibel, stigma sosial, kurangnya pendampingan, serta keterbatasan ekonomi yang menghambat akses terhadap layanan pengobatan dan rehabilitasi. Meskipun demikian, program bantuan alat bantu tetap memberikan manfaat dalam membantu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan mobilitas penyandang disabilitas. Oleh karena itu, diperlukan monitoring berkelanjutan, kesesuaian alat bantu, serta dukungan rehabilitasi dan lingkungan yang inklusif agar program berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif https://erapublikasi.id/jurnal.erapublikasi.id/JSPK/article/view/2903Moderasi Beragama sebagai Mekanisme Kohesi Sosial Masyarakat Desa: Suatu Telaah Sosiologis 2026-09-26T19:32:37+07:00Risma Junita[email protected]Dea Agustia[email protected]<p><em>This study examines religious moderation as a mechanism of social cohesion in rural communities through a study of the Religious Moderation Village in Berancah Village, Bantan District, Bengkalis Regency, Riau. The study is motivated by social changes occurring in rural communities as a consequence of information technology development, modernization, and changing patterns of social interaction. In this context, religious moderation is understood not only as an approach to religious life but also as a social practice that can strengthen relationships among residents, social solidarity, and social cohesion. This research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the Religious Moderation Village contributes to strengthening social cohesion through the development of tolerance, togetherness, mutual cooperation, deliberation, social participation, and respect for differences. Social cohesion is also supported by the involvement of village government, religious leaders, and community leaders, who function as mobilizers and reinforcers of collective values. From Émile Durkheim's perspective of social solidarity, these practices demonstrate the persistence of social bonds based on shared values, norms, and collective consciousness. Nevertheless, the strengthening of social cohesion faces challenges related to the development of social media, the circulation of information that does not always correspond with the principles of religious moderation, and the tendency of some young people to interact more frequently through digital spaces than through direct community activities. This study demonstrates that religious moderation can be understood as a social mechanism operating through interaction, participation, and the strengthening of solidarity within rural communities.</em></p>2026-09-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif https://erapublikasi.id/jurnal.erapublikasi.id/JSPK/article/view/2885Program Kartu Prakerja sebagai Modal Sosial dalam Mendorong Mobilitas Vertikal Pekerja Informal 2026-09-10T10:01:40+07:00Maya Lestari[email protected]<p><em><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia, pekerja informal memegang dominasi dalam struktur perekonomian karena jumlahnya yang besar. Sektor ini umumnya menjadi ruang penyerapan bagi kelompok tenaga kerja dengan keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal yang stabil. Pandemi COVID-19 yang terjadi pada tahun 2020, memperparah ketimpangan karena kelompok bawah lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. Sebagai respons terhadap masalah tersebut, pemerintah meluncurkan Program Kartu Prakerja untuk memberikan pengembangan kompetensi kerja. Meskipun demikian, efektivitas program ini dalam menciptakan mobilitas vertikal masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana program dapat digunakan sebagai bentuk modal sosial yang mampu memperkuat potensi mobilitas vertikal dari perspektif pekerja informal, lewat pelatihan pendidikan informal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap pekerja informal yang menjadi penerima manfaat kartu Prakerja. Hasil penelitian mengorfirmasi bahwa Program Kartu Prakerja belum optimal sebagai modal sosial pendorong mobilitas vertikal pekerja informal akibat hambatan struktural digitalisasi dan minimnya pendampingan lanjutan.</span></em></p>2026-09-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif